SUARAGEMPUR.COM | OPINI — Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan fondasi etika yang menjadi penuntun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya mengajarkan pentingnya saling menghormati, menjunjung tinggi persatuan, serta mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Namun, di tengah derasnya arus modernisasi dan perkembangan teknologi, implementasi nilai-nilai tersebut mulai menghadapi ujian serius.
Di Kota Serang dan wilayah sekitarnya, budaya gotong royong sejatinya masih hidup dalam denyut kehidupan masyarakat. Kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan, membantu tetangga yang menggelar hajatan, hingga menjaga fasilitas umum menjadi cerminan nyata dari pengamalan nilai-nilai Pancasila. Praktik ini selaras dengan sila ketiga, Persatuan Indonesia, serta sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Akan tetapi, perubahan zaman membawa konsekuensi yang tidak bisa diabaikan. Kehadiran teknologi digital perlahan menggeser pola interaksi sosial. Ruang-ruang kebersamaan kini kerap tergantikan oleh layar gawai. Tidak sedikit masyarakat yang lebih aktif di dunia maya dibandingkan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Dampaknya, rasa kepedulian sosial dan semangat kebersamaan yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia mulai mengalami degradasi.
Fenomena ini menjadi peringatan bahwa Pancasila tidak cukup hanya dipahami sebagai teori atau dihafalkan dalam ruang kelas. Ia harus hadir dalam tindakan nyata. Menghormati perbedaan, menjaga etika dalam bermedia sosial, membantu sesama tanpa pamrih, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan bentuk konkret dari pengamalan Pancasila sebagai etika bangsa.
Di sinilah peran generasi muda menjadi sangat krusial. Mereka tidak hanya menjadi pewaris nilai, tetapi juga penentu arah masa depan bangsa. Kemajuan teknologi seharusnya tidak dijadikan alasan untuk meninggalkan budaya gotong royong. Sebaliknya, teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana memperkuat solidaritas sosial, memperluas kepedulian, dan menyebarkan nilai-nilai positif yang sejalan dengan semangat Pancasila.
Pada akhirnya, kekuatan Pancasila tidak diukur dari seberapa banyak ia dihafalkan, melainkan dari seberapa dalam ia dihayati dan diamalkan. Menjaga semangat gotong royong, memperkuat kepedulian sosial, dan merawat persatuan adalah kunci agar nilai-nilai Pancasila tetap hidup dan relevan di tengah tantangan zaman modern. Masyarakat Serang memiliki potensi besar untuk menjadi contoh bahwa di tengah arus globalisasi, jati diri bangsa tetap dapat dijaga dengan kokoh.Kalau kamu mau, aku bisa bantu juga:
Penulis: Sinta Rhama Maulidina





