Di Tengah Banjir Disinformasi Digital, Perguruan Tinggi Didorong Jadi Benteng Rasionalitas dan Moderasi Berpikir

SUARAGEMPUR.COM | JAKARTA– Di tengah derasnya arus informasi digital yang kian tak terbendung, perguruan tinggi didorong mengambil peran strategis sebagai benteng rasionalitas dan penjaga akal sehat publik. Fenomena disinformasi, polarisasi, hingga menguatnya narasi ekstrem di ruang digital menuntut kampus tidak lagi bersikap pasif, melainkan tampil di garis depan dalam mengarusutamakan moderasi berpikir, Kamis (12/2/2026).

Nur Afif menilai, era media sosial dan algoritma digital telah mengubah cara masyarakat mengakses sekaligus memaknai informasi. Tanpa filter dan literasi yang memadai, ruang digital rentan dipenuhi penyederhanaan berlebihan atas persoalan kompleks, bahkan memicu perpecahan sosial.

“Moderasi berpikir bukan berarti kompromi tanpa sikap. Ia adalah kemampuan bersikap proporsional, kritis, dan terbuka terhadap berbagai perspektif,” ujarnya.

Menurutnya, kampus tidak boleh sekadar menjadi “menara gading” yang terpisah dari realitas sosial. Justru di tengah fenomena echo chamber—di mana individu hanya terpapar pandangan yang sejalan dengan keyakinannya—perguruan tinggi harus hadir sebagai laboratorium nalar kritis.

Kurikulum pendidikan tinggi, lanjutnya, perlu dirancang tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada penguatan kemampuan analitis, logika argumentatif, dan literasi digital. Mahasiswa harus dibekali keterampilan memverifikasi sumber informasi, memahami konteks, serta membedakan fakta, opini, dan manipulasi.

Budaya akademik yang sehat juga menjadi kunci. Forum diskusi, seminar, dan debat ilmiah harus menjadi ruang aman untuk bertukar gagasan tanpa intimidasi. Perbedaan pandangan perlu diposisikan sebagai peluang memperkaya perspektif, bukan ancaman.

Namun demikian, realitas internal kampus pun tidak luput dari kritik. Polarisasi politik praktis dan kepentingan ideologis tertentu kerap menyeret ruang akademik keluar dari independensi dan objektivitasnya. Jika kondisi ini dibiarkan, sulit mengharapkan lahirnya generasi yang moderat dan rasional.

Peran dosen dinilai sangat strategis. Selain sebagai pengajar, dosen merupakan teladan dalam sikap ilmiah. Keterbukaan terhadap kritik dan penghargaan terhadap perbedaan pendapat menjadi pembelajaran langsung bagi mahasiswa bahwa kebenaran ilmiah dibangun melalui dialog, bukan dominasi satu suara.

Di sisi lain, riset dan publikasi ilmiah diharapkan lebih responsif terhadap problem nyata masyarakat digital. Isu disinformasi, radikalisme daring, ujaran kebencian, hingga polarisasi sosial perlu menjadi agenda kajian serius. Hasil penelitian pun semestinya tidak berhenti di jurnal ilmiah, melainkan diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dipahami publik.

Penguatan literasi digital disebut sebagai agenda mendesak. Perguruan tinggi perlu menyelenggarakan pelatihan sistematis mengenai etika bermedia, keamanan digital, dan tanggung jawab dalam memproduksi konten. Meski mahasiswa dikenal sebagai digital native, mereka tetap membutuhkan pendampingan agar tidak terjebak dalam ilusi kebenaran instan.

Moderasi berpikir juga berkaitan erat dengan penguatan nilai kebangsaan. Di tengah globalisasi informasi, identitas nasional dapat terfragmentasi oleh narasi transnasional yang belum tentu sesuai dengan konteks Indonesia. Kampus diharapkan mampu menanamkan kesadaran bahwa keterbukaan global tidak berarti kehilangan pijakan lokal.

Kolaborasi lintas sektor menjadi langkah strategis lainnya. Perguruan tinggi perlu bersinergi dengan pemerintah, media, dan masyarakat sipil untuk memerangi disinformasi. Tantangan digital yang kompleks dan lintas batas menuntut solusi kolaboratif.

Mahasiswa pun didorong aktif memproduksi konten edukatif dan menyejukkan di ruang digital. Kreativitas generasi muda dinilai dapat menjadi kekuatan besar dalam membangun narasi argumentatif dan berbasis data.

Pada akhirnya, moderasi berpikir bukan sekadar wacana normatif, melainkan kebutuhan strategis bangsa. Perguruan tinggi diharapkan meneguhkan kembali jati dirinya sebagai ruang utama pembentukan nalar kritis dan penjaga rasionalitas publik di tengah derasnya disinformasi digital.

Reporter : Roy

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NO COPY