SUARAGEMPUR.COM| TANGERANG– Proyek perbaikan jalan nasional di Jalan Raya Serang, tepatnya di KM 21,5 Kawidaraan, Kabupaten Tangerang, kembali menjadi sorotan publik. Meski hingga kini proyek tersebut masih dalam tahap pengerjaan dan belum difungsikan untuk lalu lintas kendaraan, kondisi beton yang sudah dicor justru terlihat jelas mengalami keretakan di sejumlah titik, Kamis (29/1/2026).
Pantauan di lokasi menunjukkan, pada beberapa bagian betonisasi tampak retakan yang cukup jelas di permukaan jalan. Kondisi ini memicu pertanyaan serius terkait mutu pengerjaan proyek, mengingat beton yang retak tersebut sama sekali belum dilalui kendaraan, baik roda dua maupun kendaraan berat.

Munculnya retakan sejak tahap awal pengerjaan ini diduga kuat akibat penggunaan material beton dengan kualitas rendah dan tidak sesuai standar teknis. Dugaan tersebut menguat lantaran kerusakan terjadi sebelum jalan difungsikan, sehingga faktor beban kendaraan dapat dipastikan belum berpengaruh.
Selain dugaan kualitas material yang rendah, faktor cuaca juga menjadi sorotan. Proses pengecoran diketahui dilakukan di tengah musim hujan dengan curah hujan yang cukup tinggi, kondisi yang dinilai tidak ideal untuk pekerjaan beton. Jika tidak diimbangi dengan metode kerja dan perlindungan teknis yang tepat, kualitas beton berpotensi menurun secara signifikan.
Tak hanya itu, proyek ini juga diduga dikerjakan secara terburu-buru demi mengejar target penyelesaian. Percepatan pekerjaan yang mengabaikan aspek kualitas, mulai dari proses pengecoran, perawatan beton (curing), hingga pengawasan teknis di lapangan, dinilai menjadi penyebab utama munculnya keretakan dini.
Padahal, sebagai jalan nasional, Jalan Raya Serang memiliki peran vital sebagai jalur utama transportasi dan distribusi barang. Kerusakan dini pada struktur beton berpotensi menimbulkan masalah jangka panjang, termasuk risiko perbaikan berulang yang pada akhirnya dapat membebani anggaran negara.
Selama proses pengerjaan berlangsung, perbaikan jalan ini juga berdampak langsung pada arus lalu lintas. Kemacetan panjang kerap terjadi, terutama pada jam sibuk. Masyarakat pun berharap pengorbanan waktu dan aktivitas mereka sebanding dengan hasil pembangunan yang berkualitas dan tahan lama, bukan justru menyisakan masalah baru.
Atas kondisi tersebut, masyarakat meminta dan mendesak instansi terkait untuk turun langsung ke lapangan melakukan pemeriksaan dan evaluasi menyeluruh. Langkah ini dinilai penting guna memastikan proyek dikerjakan sesuai spesifikasi teknis dan tidak merugikan kepentingan publik.
Hingga berita ini diturunkan, belum terdapat penjelasan resmi dari pihak kontraktor pelaksana maupun instansi terkait mengenai penyebab munculnya retakan pada beton yang masih dalam tahap pengerjaan tersebut. Publik berharap adanya transparansi, tindakan korektif, serta sanksi tegas apabila ditemukan pelanggaran dalam pelaksanaan proyek.
Redaksi : Suaragempur
