Pelayanan Mandek, Toren Menjamur: Warga Vila Balaraja Soroti Kinerja PDAM TKR

SUARAGEMPUR.COM| TANGERANG – Ironis. Di tengah kewajiban membayar tagihan air setiap bulan, ratusan pelanggan PDAM Tirta Kerta Raharja (TKR) di RT 12/05 Vila Balaraja, Kabupaten Tangerang, mengaku masih harus mengeluarkan biaya tambahan untuk membeli mesin penyedot air, membangun toren penampungan, hingga menanggung beban listrik yang terus membengkak, Kamis(4/6/2026).

Kondisi tersebut bukan terjadi dalam hitungan bulan, melainkan telah berlangsung lebih dari 13 tahun tanpa perubahan signifikan. Warga pun mulai mempertanyakan ke mana sebenarnya anggaran pemeliharaan jaringan PDAM TKR dialokasikan jika pelayanan dasar air bersih masih jauh dari harapan.

Lemahnya tekanan air membuat hampir seluruh rumah terpaksa memasang toren di depan bangunan mereka. Akibatnya, jalan lingkungan yang sebelumnya cukup lebar kini semakin menyempit karena dipenuhi tandon air milik warga. Situasi ini tidak hanya mengganggu estetika kawasan, tetapi juga menghambat akses kendaraan dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

“Kalau tidak menyedot air malam hari, kami tidak kebagian air. Kami harus beli mesin, bayar listrik tambahan, dan tetap bayar tagihan PDAM. Ini sudah berlangsung bertahun-tahun,” ungkap Musafak, warga RT 12/05 Vila Balaraja, Kamis.

Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persoalan serius pada distribusi dan tekanan jaringan air PDAM TKR yang hingga kini belum pernah dituntaskan secara maksimal. Warga menilai perusahaan daerah tersebut terkesan lebih fokus menambah pelanggan baru dibanding memperbaiki kualitas pelayanan bagi pelanggan lama.

Kekhawatiran semakin besar setelah muncul informasi adanya rencana penambahan sambungan pelanggan baru di wilayah RW 05 Vila Balaraja. Warga menilai langkah tersebut berpotensi memperparah krisis distribusi air apabila tidak dibarengi peningkatan kapasitas jaringan dan tekanan air.

“Jangan sampai pelanggan baru terus ditambah, sementara pelanggan lama dibiarkan kesulitan mendapatkan air bersih. Perbaiki dulu pelayanan yang sudah ada,” tegas Musafak.

Lebih jauh, warga mempertanyakan efektivitas penggunaan anggaran pemeliharaan PDAM TKR. Pasalnya, selama lebih dari satu dekade mereka tidak melihat adanya perbaikan nyata yang berdampak langsung terhadap kualitas layanan di lingkungan mereka.

“Kalau memang ada anggaran pemeliharaan setiap tahun, hasilnya di mana? Kami masih harus pakai mesin sedot, masih harus bangun toren sendiri, dan masih kesulitan air sampai sekarang,” ujarnya.

Sorotan pun diarahkan kepada Direktur PDAM TKR, Sopian Safar. Warga meminta pimpinan perusahaan daerah tersebut tidak hanya menerima laporan administratif dari bawahannya, tetapi turun langsung ke lapangan untuk menyaksikan kondisi yang dialami pelanggan setiap hari.

“Pak Direktur harus datang dan melihat sendiri kenyataan di lapangan. Jangan sampai laporan yang masuk ke meja kantor berbeda dengan kondisi yang dirasakan masyarakat,” tambahnya.

Keluhan yang berlangsung selama 13 tahun ini memunculkan pertanyaan publik: apakah anggaran pemeliharaan jaringan PDAM TKR benar-benar digunakan secara efektif untuk meningkatkan pelayanan pelanggan, atau justru hanya menjadi angka dalam laporan administrasi?

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PDAM TKR belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan warga Vila Balaraja maupun dugaan tidak optimalnya realisasi anggaran pemeliharaan jaringan air bersih di kawasan tersebut, (Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

NO COPY