SUARAGEMPUR.COM | TANGERANG — Cafe Sopo Sanggar kembali menjadi sorotan tajam publik setelah diduga kembali beroperasi meski sebelumnya telah dinyatakan harus tutup oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang. Ironisnya, aktivitas di tempat hiburan malam tersebut kembali diwarnai keributan yang berujung pada dugaan aksi pemukulan terhadap seorang pria berinisial W, warga Katomas, Kecamatan Tigaraksa, pada Kamis (11/6/2026) sekitar pukul 02.00 WIB.
Peristiwa ini bukan sekadar insiden kriminal biasa. Lebih dari itu, kejadian tersebut memunculkan pertanyaan serius terkait komitmen penegakan aturan yang sebelumnya telah disepakati bersama antara pihak pengelola cafe dan pemerintah daerah.
Tak hanya itu, pada bulan sebelumnya, Cafe Sopo Sanggar juga sempat digeruduk oleh masyarakat yang resah dengan aktivitas hiburan malam di lokasi tersebut. Aksi warga itu menjadi bentuk protes keras atas dugaan pelanggaran yang terus berulang, bahkan sebelum adanya kesepakatan resmi penutupan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, dalam insiden terbaru, korban W saat itu tengah berada di dalam cafe dan hendak menuju toilet. Namun secara tiba-tiba terjadi keributan yang berujung pada aksi pemukulan. Hingga kini, motif serta identitas pelaku masih belum diketahui secara pasti.
Yang menjadi sorotan, Cafe Sopo Sanggar seharusnya sudah tidak lagi beroperasi. Hal ini merujuk pada kesepakatan yang ditegaskan langsung oleh Bupati Tangerang, Mochamad Maesyal Rasyid, bersama Kapolresta Tangerang, Kombes Pol. H. Andi M. Indra Waspada, dalam rapat koordinasi bersama unsur tokoh masyarakat.
Bahkan sebelumnya, Bupati Tangerang, Mochamad Maesyal Rasyid, secara tegas menyatakan larangan beroperasi bagi tempat hiburan malam atau warung “Sopo Sanggar” yang tidak berizin. Ia menegaskan tidak ada toleransi terhadap tempat usaha ilegal dan berkomitmen bersama Forkopimda untuk menutup serta menertibkan lokasi tersebut.
Namun fakta di lapangan justru menunjukkan sebaliknya. Cafe Sopo Sanggar diduga kembali beroperasi, seolah mengabaikan kesepakatan yang telah dibuat. Lebih jauh, kembali terjadinya keributan hingga dugaan penganiayaan memperkuat kesan bahwa pengawasan dan penegakan aturan masih dipertanyakan.
Kondisi ini memicu pertanyaan publik: di mana ketegasan aparat? Mengapa tempat yang sudah jelas dilarang masih bisa beroperasi, bahkan setelah sempat diprotes warga? Dan sejauh mana komitmen pemerintah daerah serta kepolisian dalam menindak pelanggaran yang terjadi berulang kali?
Hingga berita ini diturunkan, belum terlihat adanya tindakan tegas dari aparat penegak hukum terkait dugaan kembali beroperasinya Cafe Sopo Sanggar maupun insiden pemukulan yang terjadi.
Kasus ini menjadi ujian serius bagi wibawa pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Jika pelanggaran yang terang-terangan ini kembali dibiarkan, maka bukan tidak mungkin kepercayaan publik akan semakin tergerus.
Reporter: Napoleon Juliansyah
Editor: Redaksi





