SUARAGEMPUR.COM | JAKARTA, 8 Maret 2026 – Menanggapi tragedi longsor di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang merenggut empat nyawa pada Minggu sore (8/3), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Trinusa DPD DKI Jakarta menyatakan sikap keras dan menuntut pertanggungjawaban penuh dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Ketua LSM Trinusa DPD DKI Jakarta, Wahyudin, menegaskan bahwa peristiwa ini bukan sekadar bencana alam, melainkan potret nyata kegagalan manajemen mitigasi risiko yang dikelola oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta.
“Nyawa warga bukan sekadar angka dalam laporan statistik. Tragedi yang menewaskan seorang sopir truk dan tiga pedagang ini adalah bukti bahwa SOP keselamatan di Bantargebang telah runtuh. Kami meminta DLH DKI Jakarta tidak hanya bicara soal evakuasi, tapi bicara soal pertanggungjawaban hukum dan kemanusiaan,” ujar Wahyudin dalam keterangan resmJakart
Trinusa mendesak dilakukannya audit menyeluruh terhadap sistem pengelolaan gunungan sampah yang kian labil. Kami menilai ada kelalaian dalam pengawasan stabilitas zona pembuangan.
Transparansi Dana Kemitraan (Bandek): LSM Trinusa menyoroti alokasi dana bantuan keuangan (dana hibah) dari DKI ke Bekasi yang dinilai tidak berbanding lurus dengan perlindungan nyawa pekerja dan warga di area terdampak.
Desakan kepada DPRD DKI Jakarta: Wahyudin meminta DPRD DKI Jakarta untuk segera memanggil Kepala Dinas Lingkungan Hidup. “DPRD jangan hanya diam melihat mitra kerjanya lalai. Harus ada sanksi tegas, bukan sekadar rapat dengar pendapat tanpa solusi konkret,” tambahnya.
Menuntut pemberian santunan penuh dan jaminan hari tua bagi keluarga korban yang ditinggalkan, mengingat mereka gugur di garis depan pelayanan publik (kebersihan).
LSM Trinusa DPD DKI Jakarta juga mendukung langkah tegas DPRD Kota Bekasi jika memang opsi penutupan TPST harus diambil demi keselamatan nyawa manusia. Wahyudin memperingatkan bahwa jika dalam waktu dekat tidak ada langkah nyata dari Pemprov DKI, Trinusa akan menggalang kekuatan sipil untuk menuntut keadilan di depan Balai Kota.
“Kami tidak akan membiarkan tragedi ini terkubur bersama tumpukan sampah. Harus ada yang bertanggung jawab atas hilangnya nyawa saudara-saudara kami di Bantargebang,” tutup Wahyudin dengan nada tegas, (Red)
