SUARAGEMPUR.COM| TANGERANG – Sejumlah elemen masyarakat yang tergabung dalam komunitas warga Jabung di perantauan menggelar rapat tertutup di Perumahan Puri Budara, Desa Pematang, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang. Rapat tersebut membahas rencana aksi unjuk rasa di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (Mabes Polri), Minggu (7/6/2026).
Pertemuan yang dihadiri warga Jabung dari wilayah Balaraja dan Cikupa itu menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, terutama terkait respons atas dugaan penganiayaan berat yang dilakukan oleh oknum anggota Polresta Bandar Lampung.
Kasus tersebut menyeret nama seorang terduga pelaku begal, Joni Iskandar, yang dilaporkan meninggal dunia setelah diamankan. Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban mengalami sejumlah luka serius, di antaranya luka tusuk, memar, patah tulang, serta tujuh luka tembak.
Peserta rapat mengecam keras dugaan tindakan tersebut. Mereka menilai, meskipun pelaku kejahatan harus ditindak tegas, proses hukum tetap harus berjalan sesuai aturan yang berlaku.
“Kami tidak membela begal. Kami sepakat pelaku kejahatan harus ditindak. Namun penegakan hukum tidak boleh dilakukan dengan cara-cara di luar prosedur yang justru mengarah pada penyiksaan dan menghilangkan nyawa,” ujar salah satu koordinator rapat yang enggan disebutkan namanya.
Dalam forum tersebut, Ketua Paguyuban Masyarakat Jabung Rantau Balaraja dan Cikupa, Herman Tulun, menyatakan dukungan penuh terhadap rencana aksi. Ia bahkan menegaskan kesiapan untuk mengerahkan anggota paguyuban dalam aksi yang akan digelar di Mabes Polri.
Adapun sejumlah tuntutan yang disepakati dalam rapat tersebut antara lain mendesak pemecatan Kapolda Lampung, Kapolresta Bandar Lampung, serta Kasat Reserse Kriminal Polresta Bandar Lampung.
Aksi unjuk rasa ini direncanakan melibatkan massa dari berbagai daerah, termasuk Tangerang, Serang, Jabodetabek, hingga wilayah lainnya. Saat ini, masing-masing daerah diminta menggelar rapat koordinasi lanjutan sebelum dilaksanakan konsolidasi akbar untuk menentukan tanggal pasti aksi.
Para peserta rapat menargetkan aksi akan digelar bertepatan dengan Hari Bhayangkara pada 1 Juli mendatang.
“Ini momentum yang tepat untuk menyuarakan keadilan dan keprihatinan. Kami ingin Polri menjadi institusi yang bersih dan profesional, bukan yang bertindak brutal,” tegas salah satu peserta.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polresta Bandar Lampung maupun Mabes Polri belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan penganiayaan tersebut maupun rencana aksi yang akan digelar.Kalau mau, saya bisa bikin versi lebih tajam (gaya investigatif) atau versi headline viral sekalian.
Redaksi





